Pendidikan Kita: Sedikit Refleksi

Dulu waktu gw kelas 6 SD duru gw seneng banget ngasih PR matematika dan juga soal-soal latihan di kelas. Masa-masa SD kelas 6 ini juga salah satu masa ‘kejayaan’ gw. Kenapa? Gw bisa dapet uang jajan tambahan cuma-cuma dari guru gw. Jadi gini, kelas gw terdiri dari anak-anak yang mempunyai beragam kemampuan dan passion. Ada yang jago ngaji dan ceramah, ada yang jago main bulu tangkis, ada yang jago matematika, ada yang jago menghimpun massa, dan ada juga yang jago jualan barang. Masing-masing memiliki passion-nya sendiri.

Sebagai anak baik, gw tentu kerjain semua PR yang dikasih guru, nyimak pas guru nerangin, dan pulang sekolah sesuai jamnya. Tapi guru gw suka ngecek PR yang dikasih di hari sebelumnya. Satu-satu anak dipanggil secara acak buat maju ngerjain PR yang dikasih, yang ga bisa atau belum ngerjain di denda 1000 perak. Hahaha. Soal tersebut kemudian dilempar ke anak lain, yang mau dan jawabannya benar bakal dikasih 1000 perak hasil dari uang denda tadi. Reward & punishment gitu lah. Jadi lah gw yang kebagian rejeki karena suka maju.

Tapi sebenarnya gw tau, temen-temen gw yang lain punya bakat di bidang lain, cuma kasiannya bakatnya gak di tes aja di dalam kelas. Ulay misalnya, dia jago menghimpun massa. Dia punya banyak anak buah dan anak geng yang loyal sama dia. Beberapa konspirasi dan rencana geng nya berhasil di eksekusi. Ada juga Azis, si ‘tukang’ ngaji. Pernah nyabet juara MTQ se-DKI. Sekarang doi lagi ngaji di Mesir. Dan banyak anak-anak lain yang memiliki keunikan dalam bakat dan passion nya.

Sayang oh sayang, gak bakal ada nilai public speaking di rapor, gak bakal ada nilai leadership saat ujian, dan gak bakal ada nilai bisnis dan entrepreneurship di UN. Yang di-UN-kan ya semata-mata kemampuan kognitif lo. Inilah sistem pendidikan kita. Parahnya lagi, orang tua juga belum paham tentang talenta anaknya. Kalo dapet rapor merah pasti anaknya diomel-omelin. Tapi kita patut sedikit bahagia, menurut survei PISA tahun 2012 Indonesia merupakan negara dengan siswa paling bahagia di dunia, walaupun memiliki kemampuan matematika, membaca, dan pengetahuan yang rendah (posisi 9 dari bawah, dari 65 negara). Anomali? I don’t think so.

Tapi semakin gw belajar mengenai pendidikan, gw semakin yakin bahwa sebenarnya kita bisa lebih baik dari itu. Ada Abah Rama yang bikin gw sedikit tahu tentang talent mapping. Ada om Blake Boles yang bikin gw tahu tentang Bootcamp sebagai alternatif belajar, belajar dari kehidupan. Banyak juga riset mengenai Personalized Learning, Self-Directed Learning, Learning Sciences, EdTech, dan lain sebagainya. Sekarang waktunya untuk aksi, bukan cuma pinter nyinyir dan mengeluh. Semoga bisa!

Deliberate Practice: Yang Bikin Orang Jadi Jago

Pernah liat kemampuan menggocek dan shooting Cristiano Ronaldo? Keren kan? Sampai-sampai beberapa kali doi menyabet gelar top scorer Liga Spanyol. Pernah juga menjadi pemain terbaik dunia. Selain CR7 ada juga Sean Wrona (pasti lo belum pernah denger nama yang ini), seorang fast typist yang bisa ngetik pake keyboard sampai lebih dari 200 kata per menit. Coba aja lo tes kecepatan mengetik lo di Typeracer. Karena gw suka ngetik ngebut jadi gw tau orang ini. Dan orang jago yang terakhir yang gw mau sebut ialah temen gw sendiri, Ahmad Faiz. Doi sobat sekamar gw pas SMA Aliyah. Doi pernah menyabet medali emas OSN bidang kimia, dan sekarang melanjutkan kuliahnya di Jepang dalam bidang yang sama.

Ketiganya punya persamaan dan perbedaan. Ketiganya sama-sama jago di bidangnya. Namun CR7 dan Sean sama-sama jago dalam hal psikomotorik, sedangkan Faiz jago dalam bidang kognitif. Tapi yang gw ingin bahas disini ialah bagaimana mereka bisa seperti itu.

Banyak orang yang ingin jago/proficient/expert/mahir dalam suatu bidang. Bidang yang mereka sukai. Tapi banyak yang salah kaprah juga gimana caranya untuk sampai kesana. Ada yang bilang, “Itu kan bakat mereka”. Dan ada juga yang bilang, “Perfect practices make perfect. Even imperfect practices make perfect.” Latihan, latihan, latihan. Jadi ya latihan aja terus menerus nanti juga mahir. Begitu katanya.

Eits belum tentu lho. Ada penelitian yang pernah dilakukan oleh bang Ericcson (kaya merek hape yah?) pada tahun 1993. Doi mengumpulkan pemain biola di akademi musik ternama di Jerman yang telah banyak menelurkan pemain-pemain biola dunia. Mereka sama-sama memiliki bakat. Pemain biola tersebut kemudian dibagi menjadi tiga kelompok menurut tingkat keahliannya. Dan ternyata waktu yang mereka habiskan untuk berlatih sama, sekitar 51 jam per minggu.

Jadi sebenernya apa yang bikin seseorang jago?


Jawabannya, Latihan. (Lah sama aja dong?)

Tapi latihan ini yang kita sebut deliberate practice. Terjemahan kasarnya, “Latihan yang disengaja”. Yang bikin suatu bentuk latihan dibilang deliberate practice, bukan latihan biasa, ialah jika punya 3 karakteristik berikut:

Pertama, setiap bentuk latihan yang dilakukan mesti fokus pada sebuah aspek keahlian, bukan dengan memainkannya dengan “full-game”. Maksudnya gini, kalo lo mau jago main bola bukan berarti latihan yang harus lo lakukan cuma main bola tiap hari (main full game, 11 vs 11). Tapi yang bener ialah lo asah skill dribbling, shooting, heading, dsb satu per satu. Contoh lainnya kalo mau jago ngetik cepat bukannya asal ngetik yang penting cepat. Tapi fokus misalnya latihan untuk meningkatkan akurasi mengetik, biar lambat yang penting akurasinya bagus.

Kedua, latihan yang sama dilakukan berulang-ulang sampai pada tingkat kemahiran tertentu. Tetapkan target atau metrik yang ingin dicapai, lalu berlatih seperti pada poin pertama sampai target tersebut tercapai. Misalnya, kalo lo mau jago di bidang kimia, maka kerjakanlah soal-soal stoikiometri dasar sampai jawaban yang lo hasilkan semuanya benar. Lalu tingkatkan lagi pada stoikiometri menengah, dan seterusnya.

Ketiga, berikan feedback selama proses latihan, feedback langsung untuk setiap progres. Hal ini bisa dilakukan sendiri atau dengan bantuan orang lain. Misalnya kalo ada jawaban dari stoikiometri yang salah lo dapet feedback salahnya dimana, sehingga proses latihan berikutnya akan ada perbaikan. Atau ketika latihan dribble bola, ternyata ada teknik yang salah atau lebih baik menggunakan teknik yang ini dan itu.

Tapi oh tapi, sesungguhnya deliberate practice itu tidaklah mudah. Butuh kegigihan dan konsistensi. Namun percayalah bahwa lo akan menuai hasilnya. Hal inilah yang didapatkan oleh para jagoan yang gw sebut di awal tulisan ini.

Selamat Berusaha!

Referensi:

Chen, Z., Chudzicki, C., Palumbo, D. et al. (2016). Researching for better instructional methods using AB experiments in MOOCs: results and challenges. Research and Practice in Technology Enhanced Learning.
doi: 10.1186/s41039-016-0034-4

Ericsson, K. A., Krampe, R. Th., & Tesch-Roemer, C. (1993). The role of deliberate practice in the acquisition of expert performance. Psychological Review, 100, 363-406.