Hikmah: Strategi dalam Menyampaikan Pesan/Nasihat

Kejadian yang menimpa masjid Ahmad bin Hanbal di Bogor beberapa hari lalu mengingatkan gw pada kejadian yang gw alami tepat 1 hari sebelum bulan Ramadhan tahun ini (2017).  Kejadiannya apa gw gak mau sebutin wkwk, yang jelas di dalamnya terdapat hikmah untuk gw pribadi. Intinya ialah dalam menyampaikan kebaikan/nasihat, kita perlu memperhatikan beberapa aspek. Paling engga ada 3 aspek. Aspek-aspek ini sangat penting untuk diperhatikan sehingga pesan yang kita sampaikan dapat diterima oleh penerima (receiver). Ketiga aspek tsb ialah:

#1 Isinya Benar

Hal yang paling pertama yang harus diperhatikan adalah konten/isi pesan yang ingin kita sampaikan. Ini harus benar. Karena seharusnya seseorang menerima nasihat bukan dari siapa yang menyampaikan, tapi dari isinya. Isi yang salah justru akan menjadi boomerang untuk kita. Misalnya, ketika ada seorang imam yang salah bacaannya, lalu kita ingin mengingatkan sang imam dengan bacaan yang benar, maka pastikan apa yang akan disampaikan telah sesuai dengan ilmu tajwid/qur’an. Kalo bisa tunjukkanlah referensi/rujukan dalam berpendapat. Namun, ternyata dalam menyampaikan kebaikan tidak hanya butuh isi yang benar, tetapi juga cara penyampaiannya harus benar.

#2 Cara Menyampaikannya Benar

Kalo lo makan di restoran, enak mana, antara waitress-nya menghidangkan makanan dengan ramah disertai senyum atau waitress-nya ngelempar itu makanan ke meja lo? Enak mana, dinasihatin baik-baik atau dinasihatin dengan marah-marah? Gak perlu marah-marah untuk menyampaikan nasihat. Gak perlu menyinggung sang receiver jika kita ingin sang receiver mengikuti nasihat kita.

Tapi ada satu lagi yang perlu diperhatikan.

#3 Melihat Psikologis Penerima

Aspek yang ketiga ini yang sering kali luput dalam prakteknya di lapangan. Oke, mungkin isi pesan yang ingin kita sampaikan sudah benar, cara yang digunakan sudah benar. Tapi kenapa masih gagal? Inilah yang terjadi pada pengalaman gw. Yakni bagaimana melihat kesiapan penerima, secara psikologis. Misalnya, ada orang yang gak mudah menerima pesan yang baik yang disampaikan dengan cara yang baik, jika pesan itu disampaikan sama orang asing yang belum dikenal. Atau ada yang lebih menerima pesan kalo pesan itu disampaikan ketika bercanda. Atau perlu beberapa variasi cara penyampaian. Contohnya ialah dakwah sunan kalijaga yang menggunakan wayang.

Hakikat Kebahagiaan dan Kesuksesan

Kebahagiaan dan kesuksesan bukan terletak pada banyaknya harta. Ada orang kaya, tapi ia tidak bahagia. Apakah dengan memiliki setumpuk emas dan seperti Qorun? Bahkan hartanya ikut menenggelamkannya!

Kebahagiaan dan kesuksesan bukan pula terletak pada tingginya pangkat dan jabatan. Ada yang menjadi menteri, tapi ia tetap korupsi. Ada yang menjadi raja bahkan mengaku sebagai Tuhan (Fir’aun), tapi lihatlah bagaimana Allah jadikan akhir hayatnya.

Kebahagiaan dan kesuksesan bukan pula terletak pada popularitas. Berapa banyak artis yang terkenal tapi terlilit narkoba? Berapa banyak artis yang rumah tangganya berantakan? Berapa luas pula network yang seseorang punya tapi tak ada yang bisa membuatnya tersenyum?

Kebahagiaan dan kesuksesan bukan pula terletak pada banyaknya anak, sederetnya gelar, panjangnya umur, dan besarnya pengaruh di masyarakat.

Kebahagiaan dan kesuksesan di dunia dan akhirat hanya bisa didapat jika manusia mengamalkan amalan agama secara sempurna, yaitu dengan mengikuti seluruh kehidupan Rasulullah saw.. Ibadahnya, muamalahnya, mu’asyarahnya, akhlaknya, semuanya dengan mengikuti apa yang dicontohkan Rasulullah saw..